Rabu, 22 Desember 2010

Nemo

Siapa yang tidak mengenal ikan nemo? Ikan yang warna tubuhnya putih dan oranye ini semakin popular sejak ditayangkan di layar lebar beberapa tahun lalu. Di Indonesia lebif familier disebut dengan ikan badut atau clownfish. Tidak seperti di film finding nemo dimana sang tokoh kesulitan mencari jalan pulang, dalam kehidupan nyata, ikan nemo justru memiliki kehebatan menemukan kembali rumahnya walaupun terseret ombak ber mil mil jauhnya. Dan bakat ini ternyata sudah tumbuh sejak ikan nemo berukuran masih kecil.



Para pakar ikan dan kelautan telah membuktikan dengan sebuah riset di kawasan Papua Nugini. Ilmuwan ini berasal dari Negara Australia, Amerika dan Perancis. Observasi dilakukan di habitat coral seluas 300 meter persegi yang dihuni oleh ratusan ikan nemo. Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan melakukan menginjeksi cairan barium kepada ikan ikan betina sehingga terjadi mutasi. Keturunannya akan membawa isotop isotop tersebut sehingga menjadi penanda alami yang mempermudah peneliti untuk melacak sebaran ikan nemo. Ada 300 ikan badut betinda dan juga ikan kupu kupu yang menjadi obyek eksperimen ini.  Hasilnya menurut Glenn Almany, seorang peneliti dari James Cook University "Enam puluh persen ikan muda yang ditemukan ternyata berasal dari induk yang hidup di karang itu," Sedangkan sisanya adalah ikan-ikan muda yang berasal dari induk di tempat lain yang tinggal 10 kilometer dari sana. Dari penemuan tersebut maka ilmuwan melakukan perhitungan dimana diduga ikan nemo menghabiskan waktu sekitar 11 hari untuk kembali ke karang tempat tinggal induknya. Disimpulkan bahwa Ikan nemo menggunakan penciuman, penglihatan dan intuisi alamnya untuk melakukan pemetaan dalam perjalanan pulang. Dimungkinkan pula ikan-ikan nemo tersebut dapat mengenali jejak kimia tertentu yang dihasilkan saat mereka lahir.



Kemampuan serupa juga diperlihatkan ikan kupu-kupu meski keduanya berkembang biak dengan cara berbeda. Ikan badut umumnya menjaga telur-telurnya dalam sarang sedangkan ikan kupu-kupu membiarkan anak-anaknya tanpa perlakuan khusus.Penemuan yang dipublikasikan dalam edisi terbaru jurnal Science ini membuka wawasan tentang bagaimana larva ikan beredar, sehingga dapat didesain area perlindungan laut yang lebih baik. Pemasangan label isotop yang aman juga akan terus dikembangkan untuk membantu proses konservasi terhadap spesies langka.

Di Indonesia seorang peneliti dan juga pakar perikanan yang bernama Ari Wahyuni atau biasa disapa Kadek juga menaruh perhatian yang serius terhadap populasi ikan nemo. Seperti diketahui ikan nemo termasuk ikan yang susah dikembang biakkan di luar habitatnya. Dengan pengalaman sebagai pembiak ikan Ia bereksperimen dengan mengkawinkan sepasang ikan nemo berwarna dasar oranye cerah dengan corak garis putih dihiasi siluet hitam (Amphiprion ocellaris). Ikan itu diambil dari perairan Teluk Lampung, Provinsi Lampung. Percobaan awal tak berhasil. Sepasang nemo itu malah mati. Kadek mencoba lagi dengan jumlah ikan yang lebih dahsyat. Kala itu ia membeli ratusan ikan nemo untuk dikembangbiakkan. Beberapa rumah buatan untuk meletakkan telur nemo di uji coba untuk menggantikan terumbu karang yang sudah langka. Hasilnya justru tragis. Ratusan ikan nemo mati. Kadek kemudian menggunakan anemon laut untuk tempat induk nemo bersarang dan menciptakan modifikasi pipa bekas sebagai tempat tinggal benih nemo.

enurut Kadek hal tersulit adalah mencari tempat tinggal, bersarang, dan bertelur ikan itu. Jika perairan tercemar dan terumbu karang dirusak, populasi ikan ini di alam mudah terancam, kata Kadek yang bekerja sebagai peneliti di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung. Hampir bersamaan dengan itu Kadek juga bereksperimen dengan pemijahkan kuda laut. Sebagai peneliti, Kadek tak ingin setengah-setengah. Ia juga mencari formula pakan yang tepat bagi nemo dan kuda laut melalui pemberian jenis pakan yang disesuaikan dengan umur spesies. Ikan nemo yang terbiasa mengandalkan pakan alam bisa mengonsumsi pakan buatan berupa pelet setelah berukuran 3 cm.
Pada tahun 2008 riset Kadek membuahkan hasil. Ikan nemo sudah menghasilkan generasi kedua, sedangkan kuda laut generasi keempat. Ternyata benih hasil budidaya memiliki daya tahan lebih baik ketimbang tangkapan alam dan mudah beradaptasi dengan pakan buatan, perubahan lingkungan, dan salinitas. Semoga penelitian ini bisa menyelamatkan kelangsungan hidup ikan Nemo di alam liar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar